SOSIALISASI PM-AAS, BRMP JATIM PAPARKAN ME PENERAPAN DI KP MOJOSARI
Tulungagung, 9 Juli 2026 - Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Timur menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Budidaya Padi Model Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kabupaten Tulungagung di Auditorium Pascasarjana UIN SATU Tulungagung.
Kegiatan ini diikuti oleh 110 penyuluh pertanian dan 8 petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) se-Kabupaten Tulungagung. Hadir pula Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung Drs. Suyanto, M.M., Ketua Perhiptani Kabupaten Tulungagung Eko Kudiharto, S.P., Katimker Anang Ismindarto, S.P., M.P., serta perwakilan BRIDA Kabupaten Tulungagung.
Ketua Perhiptani Kabupaten Tulungagung, Eko Kudiharto, S.P., menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, narasumber, dan tamu undangan yang telah hadir. Ia berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan dan meningkatkan kapasitas penyuluh pertanian maupun POPT dalam mendampingi petani di lapangan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Drs. Suyanto, M.M., mengajak seluruh peserta untuk mendukung pelaksanaan program PM-AAS serta memahami petunjuk teknis sebagai pedoman dalam penerapannya di lapangan.
Sebagai narasumber, Koordinator KP Mojosari BRMP Jawa Timur, Dr. Lutfi Humaidi, M.Sc., memaparkan konsep budidaya padi dengan pendekatan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS). Menurutnya, PM-AAS merupakan pendekatan budidaya yang menggabungkan penggunaan benih unggul, pola tanam rapat, dan mekanisasi untuk meningkatkan produktivitas padi.
Lutfi juga menyampaikan pengalaman penerapan PM-AAS di KP Mojosari BRMP Jawa Timur melalui demplot seluas 2 hektare. Saat ini tanaman telah berumur 82 HST dengan kondisi pertumbuhan yang cukup baik. Pada fase awal pertanaman terdapat kendala berupa gulma yang tumbuh bersamaan dengan tanaman padi sehingga menjadi bahan evaluasi dalam penerapan PM-AAS ke depan.
"Berdasarkan pilot project yang dilaksanakan di BRMP Padi Sukamandi, penerapan sistem ini menunjukkan potensi produktivitas lebih dari 10 ton per hektare. Sementara di KP Mojosari, kami terus melakukan pengamatan dan penyempurnaan sehingga pengalaman ini nantinya dapat menjadi bahan pembelajaran dalam pengembangan PM-AAS di berbagai wilayah," jelas Lutfi.